Sumber: KKNT Inovasi IPB 2025, Desa Paweden
Apa Itu Papais? Cita Rasa Tradisi yang Tetap Lestari
Papais merupakan salah satu jajanan tradisional khas Jawa Tengah yang biasanya dibungkus menggunakan daun pisang dan dikukus hingga matang. Di beberapa daerah, makanan ini juga dikenal dengan nama paites, kue pais, atau pais saja. Rasanya manis, teksturnya lembut, dan sangat akrab di lidah masyarakat pedesaan. Di Desa Paweden, Kecamatan Karangkobar, papais tidak hanya menjadi makanan biasa, tetapi juga simbol kekayaan kuliner yang lahir dari hasil tani lokal. Salah satu bahan utama yang kini mulai dimanfaatkan untuk membuat papais adalah buah salak, komoditas pertanian yang paling banyak dibudidayakan oleh warga Paweden. Buah salak yang melimpah dan mudah didapat membuatnya sangat potensial untuk diolah menjadi berbagai produk pangan lokal yang bernilai jual.
Proses Pembuatan Papais Salak
Pembuatan papais salak membutuhkan ketelatenan, terutama saat mengolah buah salak itu sendiri. Berikut langkah-langkah sederhana dalam membuatnya:
- Mengupas Salak:
Buah salak terlebih dahulu dikupas dari kulitnya yang tajam. Proses ini harus dilakukan dengan hati-hati agar tidak melukai tangan.
- Memisahkan Biji dan Memotong Daging Buah:
Setelah dikupas, daging salak dipisahkan dari bijinya, lalu dipotong kecil-kecil agar lebih mudah dihaluskan.
- Membuat Adonan:
Potongan buah salak kemudian diblender hingga halus, lalu dicampur dengan bahan lain seperti tepung, gula, dan sedikit air. Campuran ini diuleni hingga membentuk adonan yang cukup padat dan tidak terlalu encer.
- Membungkus dengan Daun Pisang:
Adonan dibungkus menggunakan daun pisang yang telah dilayukan (agar lentur dan tidak robek). Bungkusannya dibuat rapi seperti bentuk lontong kecil.
- Mengukus:
Papais yang sudah dibungkus ditata dalam kukusan, lalu dikukus selama 15–20 menit hingga matang dan mengeluarkan aroma wangi khas daun pisang dan salak.
Setelah matang, papais salak siap disajikan sebagai kudapan sehat, manis, dan pastinya ramah lingkungan karena tidak menggunakan plastik sebagai pembungkus.
Sumber: KKNT Inovasi IPB 2025, Desa Paweden
Potensi Papais Salak di Masa Depan
Dengan bahan baku yang mudah diperoleh dan proses pembuatan yang cukup sederhana, papais salak memiliki potensi besar untuk dikembangkan sebagai produk unggulan desa. Selain untuk konsumsi pribadi atau suguhan saat acara keluarga, papais salak juga bisa dikemas menarik dan dipasarkan sebagai oleh-oleh khas Desa Paweden. Jika diolah secara konsisten, produk ini bukan hanya memperkuat identitas kuliner lokal, tetapi juga membuka peluang pemberdayaan ekonomi masyarakat, terutama kelompok ibu-ibu atau UMKM setempat. Harapannya, inovasi seperti papais salak ini dapat terus dikenalkan kepada generasi muda, dikenalkan dalam bazar atau festival desa, bahkan masuk ke pasar digital agar lebih dikenal luas.